Wilayah Ini Diprediksi Tetap Hujan Saat Kemarau 2026, Tak Terlalu Terpengaruh El Nino

Kategori : Ekonomi
Tanggal : 08 August 2026

Wilayah Ini Diprediksi Tetap Hujan Saat Kemarau 2026, Tak Terlalu Terpengaruh El Nino
KABAR NUSANTARA – Sebagian wilayah Indonesia diprediksi menghadapi musim kemarau yang lebih kering pada 2026. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi secara merata. Sejumlah wilayah justru masih berpotensi mengalami hujan meski sebagian besar daerah Indonesia memasuki periode kemarau. Pakar Hidrometeorologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, menyebut ada sejumlah wilayah di Indonesia yang secara geografis cenderung tetap basah dan tidak mengalami musim kemarau seperti wilayah lainnya. Tiga wilayah yang disebut adalah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Menurut Armi, ketiga wilayah tersebut memiliki pola hujan yang relatif berlangsung sepanjang tahun. "Ada tiga daerah di Indonesia ini yang tidak mengenal namanya musim kemarau ataupun pengaruh El Nino, yaitu Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Tiga daerah ini tidak pernah mengalami namanya musim kemarau, dia selalu basah terus," ujar Armi. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani juga menyebut wilayah lain yang memiliki karakter serupa, yakni pesisir barat Sumatera dan Kalimantan Utara. Wilayah tersebut termasuk daerah dengan pola satu musim. Artinya, hujan masih dapat terjadi sepanjang tahun tanpa perbedaan musim hujan dan kemarau yang terlalu tegas. "Mengapa di daerah pesisir barat Pulau Sumatera itu masih hujan? Karena itu daerah satu musim. Kenapa di daerah utara Kalimantan masih hujan? Karena itu area satu musim yang tidak mengenal adanya musim kemarau," jelas Faisal. Berbeda dengan Jawa hingga Nusa Tenggara Kondisi tersebut berbeda dengan wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah tersebut memiliki pola musim yang lebih jelas sehingga dampak kemarau dapat terasa lebih kuat ketika terjadi anomali iklim seperti El Nino. Musim kemarau dapat berlangsung lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal. Namun, wilayah yang masih sering diguyur hujan juga tidak sepenuhnya bebas dari risiko bencana. Armi mengingatkan bahwa peningkatan suhu dan perubahan pola cuaca dapat memicu hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko banjir dan banjir bandang, terutama di wilayah yang tetap mendapatkan curah hujan tinggi. Karena itu, daerah yang relatif basah selama musim kemarau tetap perlu mewaspadai cuaca ekstrem. Dengan karakter geografis dan pola hujan yang berbeda-beda, dampak kemarau 2026 tidak akan dirasakan secara sama di seluruh wilayah Indonesia.

← Kembali

Komentar Pembaca


Daftar Komentar

Belum ada komentar.