Bahaya Doomscrolling bagi Kesehatan Otak, Kebiasaan Membaca Berita Buruk yang Perlu Diwaspadai

Kategori : Teknologi
Tanggal : 06 August 2026

Bahaya Doomscrolling bagi Kesehatan Otak, Kebiasaan Membaca Berita Buruk yang Perlu Diwaspadai
KabarNusantara.my.id – Pernah merasa sulit berhenti menggulir media sosial meski yang muncul hanya berita buruk, konflik, atau kabar yang membuat cemas? Kebiasaan tersebut dikenal sebagai doomscrolling. Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca atau menonton informasi negatif di media sosial maupun internet. Meski informasi yang dikonsumsi memicu rasa khawatir, takut, atau stres, banyak orang tetap terdorong untuk terus menggulir layar. Kebiasaan ini semakin sering terjadi sejak masa pandemi dan kini menjadi bagian dari gaya hidup digital sebagian masyarakat. Padahal, terlalu lama mengonsumsi berita negatif dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fungsi otak. Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan? Otak manusia secara alami lebih peka terhadap informasi yang dianggap sebagai ancaman. Naluri ini dahulu membantu manusia bertahan hidup, tetapi kini justru membuat seseorang lebih mudah terpikat pada berita negatif, konflik, maupun tragedi. Di sisi lain, algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang memancing perhatian dan emosi. Akibatnya, pengguna bisa terus terjebak dalam siklus membaca informasi negatif tanpa disadari. Dampak Doomscrolling terhadap Otak 1. Meningkatkan Stres dan Kecemasan Paparan berita negatif secara terus-menerus dapat merangsang bagian otak yang mengatur respons terhadap ancaman. Kondisi ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin sehingga seseorang lebih mudah merasa cemas, tegang, bahkan kelelahan mental. 2. Menurunkan Konsentrasi Terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat membuat otak kesulitan memproses semuanya dengan baik. Akibatnya, konsentrasi menurun, produktivitas terganggu, dan seseorang lebih mudah terdistraksi. 3. Memicu Kebiasaan Adiktif Setiap kali menggulir media sosial, otak akan terus mencari informasi baru. Proses ini memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Meski informasi yang diterima bersifat negatif, dorongan untuk terus mencari kabar terbaru membuat seseorang sulit menghentikan kebiasaan tersebut. 4. Mengganggu Kualitas Tidur Doomscrolling yang dilakukan sebelum tidur dapat membuat otak tetap aktif. Selain itu, cahaya biru dari layar ponsel juga dapat menghambat produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur waktu tidur. Akibatnya, seseorang lebih sulit tidur, kualitas istirahat menurun, dan proses pemulihan otak menjadi kurang optimal. Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling Untuk mengurangi dampak negatif doomscrolling, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, antara lain: Hindari menggunakan ponsel sebelum tidur. Letakkan ponsel jauh dari tempat tidur. Aktifkan mode grayscale atau hitam putih agar layar tidak terlalu menarik perhatian. Batasi penggunaan media sosial menggunakan fitur screen time. Matikan notifikasi yang tidak penting agar tidak terus terdorong membuka aplikasi. Gunakan Media Sosial Secara Bijak Mengikuti perkembangan informasi memang penting, tetapi mengonsumsi berita negatif secara berlebihan tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan stres, mengganggu konsentrasi, hingga menurunkan kualitas tidur. Mengatur waktu penggunaan media sosial dan memilih informasi yang dikonsumsi secara bijak menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan otak sekaligus keseimbangan mental di era digital.

← Kembali

Komentar Pembaca


Daftar Komentar

Belum ada komentar.